Minggu, 29 April 2012

Telaga Warna - Puncak Bogor



Menemani teman yang berkunjung ke Bogor, saya akhirnya mengambil cuti kantor satu hari. Bukan menjadi pemandu, tapi malah menjadi seseorang yang dipandu di salah satu daerah wisata Bogor, yaitu Puncak. Kota Bogor yang sudah mulai panas dan macet membuat kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang agak dingin dan sejuk.

Biasanya saya menggunakan mobil pribadi ke sana. Tapi, kali ini kami menggunakan angkutan umum jurusan Cianjur untuk merasakan bagaimana rasanya menggunakan ankgkuatan umum . Dengan tarif lima belas ribu rupiah, sang mobil mengantar kami hingga Puncak pass. Karena penumpangnya tidak begitu ramai, sang supir melakukan pencarian penumpang di beberapa titik. Perjalanan yang dimulai dari jam setengah sembilan pagi berakhir di Puncak Pass  sekitar jam setengah dua belas lewat.

Puncak pass merupakan tempat yang sering menjadi tempat pemberhentian sementara orang- orang yang melakukan perjalanan dari dan ke Bandung dan sekitarnya via  jalur Puncak. Kami menikmati udara segar dan pemandangan jalan berliuk-liuk khas pegunungan dan kebun teh yang terhampar  luas. 

Kami melanjutkan perjalanan ke arah telaga warna yang merupakan salah satu tempat wisata di daerah Puncak. Tempat ini yang baru pertama kali saya datangi. Hehe . Menuju pintu masuk, ada jalan kecil  sepanjang seratus meter  yang membelah hamparan kebun teh. Jalan kecil ini cukup untuk dilewati motor. 
Dengan tarif dua ribu rupiah untuk pengunjung pribumi, dan lima belas ribu rupiah untuk pengunjung mancanegara, kita bisa memasuki wilayah Taman Wisata Alam Telaga Warna ini. Jika membawa motor sendiri, tarifnya akan berbeda lagi, karena ditambah biaya parkir motor.

Kami berjalan memasuki pelataran Telaga Warna. Hari itu suasananya agak ramai walaupun bukan hari libur. Anak-anak SD yang  juga sedang berkunjung  berlarian di sana. Selain kami dan anak-anak SD,  banyak juga penungunjung dari klub motor touring dan sekelompok anak muda yang juga  mungkin sedang berpetualang. Ada juga turis yang berasal dari  Timur Tengah yang datang kesana. Sesi foto  menjadi agenda setiap pengunjung kesana.

Selain melihat keindahan  telaga warna, penunjung dapat menikmati  berbagai kagiatan outbond, di antaranya mencoba flying fox  dan berperahu.  Pengunjung juga bisa menyaksikan binatang liar yang bebas berkeliaran seperti monyet. 

Kami mengunjungi telaga  putri yang letaknya sekitar lima ratus meter dari telaga warna. Untuk menuju telaga putri, kami harus melalui jalan setapak  di antara pepohonon rimbun dan lembab. Telaga putri seperti  tempat mandi  terbuka di pedesaan.   Pada saat kami ke sana, airnya sedang surut. 

Menurut salah seorang petugas yang kami temui,   hujan tidak turun beberapa hari sebeleumnya.. Biasanya airnya penuh, bahkan sampai mengalir ke jalan setapak yang kami lalui.
Karena bagian informasi pada saat itu sedang tidak ada , akhirnya saya mendapatkan legenda mengenai  Telaga Warna ini dari ‘mbah Google’ dengan alamat berikut http://teamtouring.net/legenda-telaga-warna-kawasan-puncak.html.


Di situs tersebut  terdapat informasi  mengenai legenda Telaga Warna.  Telaga itu konon merupakan air mata rakyat yang menangis karena sang putri memutuskan kalung berisi perhiasan yang dikumpulkan oleh semua rakyatnya.
Dan yang menarik, di dalamnya juga ada cerita mengenai dua ikan purba yang masih hidup di dalam Telaga Warna.  Barang siapa yang melihatnya,  cita-citanya akan terkabul.

Sebelum membaca ini, pada saat disana bersyukurnya saya dan teman saya sempat melihat ikan yang berenang di dekat pinggir telaga warna itu. Ikannya tidak begitu besar dan ada warna merah di bagian tubuhnya. Semoga ikan itu adalah ikan purba yang diceritakan.Wah.. semoga mimpi dan cita-cita kami terkabul ya. Hehe.

Kami mengakhiri perjalanan di Telaga Warna sekitar jam setengah tiga. Perut kami sudah meronta, meminta diisi. Pojok Sate Kiloan menjadi pilihan kami untuk mengisi perut kami yang keroncongan di suasana yang sudah membuat saya menggigil. Sate kambing dan gulai iga kambing serta  teh panas menjadi pilihan kami.
Huan mulai turun ketika kami menyantap  menu pilihan kami sambil menikmati pemandangan kebun teh. Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kami hari itu dan kembali pulang  ke Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar